Permainan Angry Birds benar-benar membawa berkah bagi Rovio Entertainment sebagai produsennya. Developer gim
asal Finlandia itu berhasil meraup pendapatan sebesar 106,3 juta dollar
AS atau sekitar Rp 975 miliar sepanjang tahun lalu. Rovio juga meraih
laba sebelum pajak sebesar 67,6 juta dollar AS atau setara Rp 620 miliar
pada 2011.
"Pertumbuhan pendapatan yang kuat jelas menunjukkan
popularitas merek Angry Birds. Investasi besar dibuat pada tahun 2011
pada semua bidang usaha akan terlihat pada produk masa depan," kata CEO
Rovio, Mikael Hed, dalam pernyataan persnya.
Sebagaimana perusahaan start-up lain, Rovio memanfaatkan pertumbuhan smartphone
dan komputer tablet dalam beberapa tahun terakhir. Pada akhir 2011,
Angry Birds telah diunduh hingga 648 juta dengan pengguna aktif bulanan
mencapai 200 juta.
Perkembangan pesat yang ditunjukkan oleh para
pembuat gim digital itu telah menarik perhatian kalangan di Silicon
Valley. Tahun lalu, perusahaan tersebut meraih pendapatan 42 juta dollar
AS dari sekelompok perusahaan swasta, termasuk Accel Partners, Atomico
Ventures, dan Venture Felicis.
Popularitas itu mendorong spekulasi bahwa Rovio akan segera go public, mengikuti jejak lain pembuat online game, Zynga. Di lain sisi, perusahaan ini tak lepas dari kritik karena sangat tergantung pada sebuah gim.
Dalam
pernyataan persnya, Rovio mengatakan bahwa masa depan keuangan
perusahaan akan tergantung pada jadwal peluncuran dan keberhasilan
game-game baru pada tahun 2012. Rovio juga berusaha memperluas brand offline melalui produk mainan dan lisensi lainnya. Produk-produk ini menyumbang sekitar 30 persen dari total pendapatan.
